Kebutuhan akan hunian sewa di lahan terbatas menuntut penataan yang efisien tanpa mengorbankan kenyamanan penghuninya. Berangkat dari kondisi tersebut, rancangan massa bangunan disusun berderet dengan memanfaatkan bentuk atap pelana untuk merespons iklim tropis secara pasif. Fasad depan memadukan karakter visual bata merah yang hangat dengan elemen menyerupai dinding hijau vertikal, memberikan kesan membumi sekaligus menyejukkan pandangan. Kehadiran tampilan batu pada sebagian bidang penyekat turut memperkaya variasi visual pada area eksterior.
Pengorganisasian tata ruang pada lantai dasar difokuskan pada pemenuhan fungsi harian secara optimal. Area komunal dirancang mengalir terbuka untuk menjaga kelancaran sirkulasi udara dan cahaya dari arah pintu masuk menuju ke bagian dalam hunian.
Pada area dalam, dinding dengan tampilan bata dibiarkan mendominasi untuk menjaga kesinambungan karakter dari luar ruangan. Elemen fungsional seperti anak tangga gantung dirancang lugas, memanfaatkan ruang secara efisien di tengah dimensi yang padat. Kehadiran aksen visual menyerupai tanaman pada dinding bagian dalam turut membantu menyegarkan suasana, menyeimbangkan kesan hangat dari elemen bata di sekelilingnya.
Sebagai solusi atas keterbatasan luasan lantai dasar, ruang istirahat ditempatkan pada lantai atas yang memanfaatkan rongga di bawah struktur atap pelana. Area mezanin ini terasa lega berkat plafon miring dengan sentuhan akhir bercorak kayu. Pemanfaatan bukaan kaca pada bidang atap memastikan masuknya cahaya alami secara maksimal, menjaga area istirahat tetap terang pada siang hari sekaligus mengoptimalkan pertukaran udara.
Keseluruhan alur sirkulasi berujung pada area belakang yang tetap difasilitasi dengan bukaan pintu dan elemen tembus cahaya. Penataan yang mengutamakan pencahayaan alami dan sirkulasi silang dari depan hingga ke belakang ini pada akhirnya bermuara pada pencapaian kenyamanan ruang dan bangunan yang utuh bagi setiap penghuninya.









Komentar
Beri Komentar